”Berikan aku 1.000 orang tua, niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya.
Berikan aku 1 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia”. Kata penuh
semangat yang disampaikan presiden pertama RI Soekarno tersebut seakan
menahbiskan bahwa pemuda adalah sumber harapan. Prinsip itu pula yang
ingin diterapkan Konjen Jepang untuk Surabaya Noboru Nomura dalam
pelaksanaan tugasnya di Metropolis.
Hal tersebut dikatakan Nomura saat mengunjungi Kantor Redaksi Jawa Pos di Graha Pena Surabaya kemarin (5/6). Ditemui direktur Jawa Pos Holding Nany Wijaya, Pemimpin Redaksi Jawa Pos Leak Kustiya, dan Kepala Koordinator Liputan Arief Santosa, Nomura menyatakan bahwa selama masa baktinya di Surabaya, dia akan banyak melibatkan kaum pemuda. ”Salah satunya lewat jalur pendidikan. Yakni, pemberian beasiswa mulai S1 hingga S3,” katanya.
Pria yang fasih berbahasa Indonesia tersebut menuturkan, dengan menggandeng anak muda, segala pekerjaan bisa dilakukan dengan baik. ”Anak muda memiliki kekuatan yang luar biasa,” sambung pria lulusan Hubungan Internasional Universitas Indonesia itu.
Selain membahas tentang dibukanya kesempatan menempuh pendidikan di Negeri Sakura bagi putra-putri Indonesia, banyak hal lain yang dibicarakan. Di antaranya, pengalokasian dana 40 juta yen dari pemerintah Jepang yang akan digunakan untuk membiayai lima proyek kemanusiaan di tiga provinsi di negeri ini, yakni Jawa Timur, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Timur.
Nanti dana tersebut akan diberikan bagi mereka yang mengajukan proposal. Pengajuan proposal sendiri dibagi dalam dua tahap. Tahap pertama untuk dua proyek di-deadline hingga Juli mendatang. Kemudian, tahap kedua bagi tiga proyek ditunggu hingga Oktober 2012. ”Sejauh ini, kami sudah menerima 63 proposal. Mayoritas dari Jawa Timur. Dari dua provinsi yang lain belum banyak,” kata Nomura yang anak bungsunya, Mayumi Nomura, lahir di rumah sakit RKZ (RS St.Vincentius A Paulo) Surabaya pada 1985 itu.
Dalam kunjungan tersebut, tidak hanya hal serius yang dibincangkan. Obrolan yang ditemani secangkir teh panas dan pisang goreng hangat itu juga membicarakan kenangan masa lalu Nomura yang pernah dua kali bertugas di Surabaya, yakni pada 1983–1986 dan 2000–2003), serta tentang kebudayaan dan olahraga di Negeri Matahari Terbit. Salah satunya sumo.
”Saat ini semakin banyak orang Jepang yang tidak mau bermain sumo. Sebab, selain aktivitasnya berat, gajinya pun kecil. Beda jauh dengan olahragawan lain seperti sepak bola,” jelasnya. Selain mengunjungi Kantor Redaksi Jawa Pos, Nomura diajak melihat secara langsung proses pengambilan gambar di JTV (Jawa Pos Group). (nji/c14/tia)”Berikan aku 1.000 orang tua, niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya. Berikan aku 1 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia”. Kata penuh semangat yang disampaikan presiden pertama RI Soekarno tersebut seakan menahbiskan bahwa pemuda adalah sumber harapan. Prinsip itu pula yang ingin diterapkan Konjen Jepang untuk Surabaya Noboru Nomura dalam pelaksanaan tugasnya di Metropolis.
Hal tersebut dikatakan Nomura saat mengunjungi Kantor Redaksi Jawa Pos di Graha Pena Surabaya kemarin (5/6). Ditemui direktur Jawa Pos Holding Nany Wijaya, Pemimpin Redaksi Jawa Pos Leak Kustiya, dan Kepala Koordinator Liputan Arief Santosa, Nomura menyatakan bahwa selama masa baktinya di Surabaya, dia akan banyak melibatkan kaum pemuda. ”Salah satunya lewat jalur pendidikan. Yakni, pemberian beasiswa mulai S1 hingga S3,” katanya.
Pria yang fasih berbahasa Indonesia tersebut menuturkan, dengan menggandeng anak muda, segala pekerjaan bisa dilakukan dengan baik. ”Anak muda memiliki kekuatan yang luar biasa,” sambung pria lulusan Hubungan Internasional Universitas Indonesia itu.
Selain membahas tentang dibukanya kesempatan menempuh pendidikan di Negeri Sakura bagi putra-putri Indonesia, banyak hal lain yang dibicarakan. Di antaranya, pengalokasian dana 40 juta yen dari pemerintah Jepang yang akan digunakan untuk membiayai lima proyek kemanusiaan di tiga provinsi di negeri ini, yakni Jawa Timur, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Timur.
Nanti dana tersebut akan diberikan bagi mereka yang mengajukan proposal. Pengajuan proposal sendiri dibagi dalam dua tahap. Tahap pertama untuk dua proyek di-deadline hingga Juli mendatang. Kemudian, tahap kedua bagi tiga proyek ditunggu hingga Oktober 2012. ”Sejauh ini, kami sudah menerima 63 proposal. Mayoritas dari Jawa Timur. Dari dua provinsi yang lain belum banyak,” kata Nomura yang anak bungsunya, Mayumi Nomura, lahir di rumah sakit RKZ (RS St.Vincentius A Paulo) Surabaya pada 1985 itu.
Dalam kunjungan tersebut, tidak hanya hal serius yang dibincangkan. Obrolan yang ditemani secangkir teh panas dan pisang goreng hangat itu juga membicarakan kenangan masa lalu Nomura yang pernah dua kali bertugas di Surabaya, yakni pada 1983–1986 dan 2000–2003), serta tentang kebudayaan dan olahraga di Negeri Matahari Terbit. Salah satunya sumo.
Hal tersebut dikatakan Nomura saat mengunjungi Kantor Redaksi Jawa Pos di Graha Pena Surabaya kemarin (5/6). Ditemui direktur Jawa Pos Holding Nany Wijaya, Pemimpin Redaksi Jawa Pos Leak Kustiya, dan Kepala Koordinator Liputan Arief Santosa, Nomura menyatakan bahwa selama masa baktinya di Surabaya, dia akan banyak melibatkan kaum pemuda. ”Salah satunya lewat jalur pendidikan. Yakni, pemberian beasiswa mulai S1 hingga S3,” katanya.
Pria yang fasih berbahasa Indonesia tersebut menuturkan, dengan menggandeng anak muda, segala pekerjaan bisa dilakukan dengan baik. ”Anak muda memiliki kekuatan yang luar biasa,” sambung pria lulusan Hubungan Internasional Universitas Indonesia itu.
Selain membahas tentang dibukanya kesempatan menempuh pendidikan di Negeri Sakura bagi putra-putri Indonesia, banyak hal lain yang dibicarakan. Di antaranya, pengalokasian dana 40 juta yen dari pemerintah Jepang yang akan digunakan untuk membiayai lima proyek kemanusiaan di tiga provinsi di negeri ini, yakni Jawa Timur, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Timur.
Nanti dana tersebut akan diberikan bagi mereka yang mengajukan proposal. Pengajuan proposal sendiri dibagi dalam dua tahap. Tahap pertama untuk dua proyek di-deadline hingga Juli mendatang. Kemudian, tahap kedua bagi tiga proyek ditunggu hingga Oktober 2012. ”Sejauh ini, kami sudah menerima 63 proposal. Mayoritas dari Jawa Timur. Dari dua provinsi yang lain belum banyak,” kata Nomura yang anak bungsunya, Mayumi Nomura, lahir di rumah sakit RKZ (RS St.Vincentius A Paulo) Surabaya pada 1985 itu.
Dalam kunjungan tersebut, tidak hanya hal serius yang dibincangkan. Obrolan yang ditemani secangkir teh panas dan pisang goreng hangat itu juga membicarakan kenangan masa lalu Nomura yang pernah dua kali bertugas di Surabaya, yakni pada 1983–1986 dan 2000–2003), serta tentang kebudayaan dan olahraga di Negeri Matahari Terbit. Salah satunya sumo.
”Saat ini semakin banyak orang Jepang yang tidak mau bermain sumo. Sebab, selain aktivitasnya berat, gajinya pun kecil. Beda jauh dengan olahragawan lain seperti sepak bola,” jelasnya. Selain mengunjungi Kantor Redaksi Jawa Pos, Nomura diajak melihat secara langsung proses pengambilan gambar di JTV (Jawa Pos Group). (nji/c14/tia)”Berikan aku 1.000 orang tua, niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya. Berikan aku 1 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia”. Kata penuh semangat yang disampaikan presiden pertama RI Soekarno tersebut seakan menahbiskan bahwa pemuda adalah sumber harapan. Prinsip itu pula yang ingin diterapkan Konjen Jepang untuk Surabaya Noboru Nomura dalam pelaksanaan tugasnya di Metropolis.
Hal tersebut dikatakan Nomura saat mengunjungi Kantor Redaksi Jawa Pos di Graha Pena Surabaya kemarin (5/6). Ditemui direktur Jawa Pos Holding Nany Wijaya, Pemimpin Redaksi Jawa Pos Leak Kustiya, dan Kepala Koordinator Liputan Arief Santosa, Nomura menyatakan bahwa selama masa baktinya di Surabaya, dia akan banyak melibatkan kaum pemuda. ”Salah satunya lewat jalur pendidikan. Yakni, pemberian beasiswa mulai S1 hingga S3,” katanya.
Pria yang fasih berbahasa Indonesia tersebut menuturkan, dengan menggandeng anak muda, segala pekerjaan bisa dilakukan dengan baik. ”Anak muda memiliki kekuatan yang luar biasa,” sambung pria lulusan Hubungan Internasional Universitas Indonesia itu.
Selain membahas tentang dibukanya kesempatan menempuh pendidikan di Negeri Sakura bagi putra-putri Indonesia, banyak hal lain yang dibicarakan. Di antaranya, pengalokasian dana 40 juta yen dari pemerintah Jepang yang akan digunakan untuk membiayai lima proyek kemanusiaan di tiga provinsi di negeri ini, yakni Jawa Timur, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Timur.
Nanti dana tersebut akan diberikan bagi mereka yang mengajukan proposal. Pengajuan proposal sendiri dibagi dalam dua tahap. Tahap pertama untuk dua proyek di-deadline hingga Juli mendatang. Kemudian, tahap kedua bagi tiga proyek ditunggu hingga Oktober 2012. ”Sejauh ini, kami sudah menerima 63 proposal. Mayoritas dari Jawa Timur. Dari dua provinsi yang lain belum banyak,” kata Nomura yang anak bungsunya, Mayumi Nomura, lahir di rumah sakit RKZ (RS St.Vincentius A Paulo) Surabaya pada 1985 itu.
Dalam kunjungan tersebut, tidak hanya hal serius yang dibincangkan. Obrolan yang ditemani secangkir teh panas dan pisang goreng hangat itu juga membicarakan kenangan masa lalu Nomura yang pernah dua kali bertugas di Surabaya, yakni pada 1983–1986 dan 2000–2003), serta tentang kebudayaan dan olahraga di Negeri Matahari Terbit. Salah satunya sumo.
”Saat ini semakin banyak orang Jepang yang tidak mau bermain sumo.
Sebab, selain aktivitasnya berat, gajinya pun kecil. Beda jauh dengan
olahragawan lain seperti sepak bola,” jelasnya. Selain mengunjungi
Kantor Redaksi Jawa Pos, Nomura diajak melihat secara langsung proses
pengambilan gambar di JTV (Jawa Pos Group). (nji/c14/ti)















